GUDANG DEWASA, Aku begitu merasakan kecewa dengan suami ku lantaran aku harus melayani nafsu teman-teman nya demi bisa membayar hutang suami ku kepada teman nya .
Pernikahan itu sendiri memang berlangsung mewah untuk seukuran desaku. Orangtua Doli adalah petani tembakau. Doli anak kedua dari tiga bersaudara. Doli bersekolah di kota Semarang sejak kecil hingga lulus SMU. Ratna namaku, Sejak kecil hingga tamat SMU aku bermukim di Salatiga.
Orangtuaku nyaris tak pernah mengajakku bepergian, bahkan kota Semarang dan Yogyakarta kuketahui lewat wisata sekolah. di desa, aku digunjingkan sebagai perawan tua karena hingga usia 27 tahun aku belum juga mendapat jodoh.
“Ratna, umurmu sudah tua, kok belum dapat jodoh juga. Kamu akan bapak jodohkan sama anak teman Bapak ya,” kata Bapakku suatu kali. “Inggih Pak, kulo nderek mawon,” jawabku menyetujui usulan Bapak.
Dua bulan kemudian undangan pernikahanku sudah beredar, namun tak sekalipun aku bertemu Doli, paling hanya lewat foto yang dibawa oleh Bapakku. “Doli belum bisa cuti kerja, nanti saja cutinya diambil sekalian hari pernikahan,” alasan Bapakku saat kutanya kenapa Doli tak bertandang ke rumah kami. Kan aku ingin berkenalan dengan calon suamiku.
Pernikahan kami berjalan lancar, tetamu banyak berdatangan membawa kado bermacam-macam, hampir sebagian besar alat rumah tangga. Kami juga menanggap wayang kulit, pertunjukan kesenian Jawa Tengah yang didalangi oleh Ki Bondo ahli pewayangan di desa kami. Pokoknya pernikahan kami meriah dan berkelas untuk ukuran desa kami.
Malam usai pernikahan, Doli tak menyentuhku. “Aku lelah, ngantuk. Aku meh turu,” tegasnya langsung tertidur. Aku hanya diam dan malu karena harus berbagi ranjang dengan pria yang baru kukenal tadi pagi saat akad nikah. Dalam diam kupandangi wajah Doli, berwajah persegi empat, dengan rahang tegas, rambut sedikit berombak. Dengkuran kecil mengiringi tidur lelapnya.
Hanya tiga hari Doli di rumah, kemudian diajaknya aku ke kota Semarang menuju kediamannya. Doli kontrak disebuah rumah kecil tanpa halaman dan mempunyai satu kamar tidur, satu ruang tamu, dapur sekaligus ruang makan dan satu kamar mandi. Cukuplah rumah itu bagi kami berdua. Sejak menikah praktis aku di rumah saja, Doli berangkat kerja pagi dan pulang pukul tujuh malam. Doli mengaku bekerja di perusahaan garmen, entah bagian apa. Cerita panas
Baru dua bulan pernikahan, Doli di PHK karena order garmen perusahaannya tempat bekerja mengalami kesulitan. Banyak pesanan yang datang dari Amerika dibatalkan, alasannya Amerika sedang dilanda krisis keuangan. Hal tersebut berdampak pada perusahaan tempat Doli bekerja. Doli bersikukuh tak mau pulang ke Desa.
“Kita harus ke Jakarta, mengadu nasib di sana. Kita akan tinggal di rumah teman-teman saya. Pokoknya kamu diam dan ikut saya,” tegas Doli meyakinkanku. Yang namanya istri ya nurut suami, apalagi aku tak bekerja, jadi tak ada alasan untuk menolaknya.
di Jakarta kami tinggal di bilangan Tanjung Priok, menumpang di sebuah rumah kontrakan milik Erick, teman Doli. di rumah tersebut hanya Doli yang membawa istri, yang lain lajang. Yang tadinya Doli perhatian dan terlihat mencintaiku kini mulai berubah. Apalagi sejak tiap malam Doli bermain kartu dengan teman-temannya. Jika kuingatkan untuk tak berlama-lama bermain kartu, Doli malah marah.
“Tih, seharian aku berjalan kaki putar-putar cari lowongan kerja, tak satupun diterima. Aku hanya menghilangkan lelah dengan bermain kartu,” urainya. Aku terdiam dan rebahan di kamar menunggu Doli.
Hingga suatu hari Doli mendadak masuk kamar dan mendekapku erat sambil berbisik “sayang, tolonglah suamimu ini. Aku kalah main kartu. Aku berusaha untuk mengalahkan Erick namun makin hari kekalahanku makin besar hingga lima juta. Jika tak kubayar kita akan diusirnya dari rumah ini, tolonglah aku Tih….”
“Bagaimana bisa mas? Uang kita hanya tinggal tiga setengah juta, dan k upayakan untuk makan seirit mungkin agar mencukupi kebutuhan makan kita, Mas Doli kan belum dapat kerja. Bagaimana mungkin kita membayarnya, dengan apa mas?” mulai terisak sekaligus kebingungan menerpaku.
Ratna sayangku, kali ini mas benar-benar meminta tolong padamu, biarkan Erick tidur denganmu malam ini hingga besok pagi. Utang tersebut akan lunas,” papar Doli. Aku tak mampu berkata-kata. Aku menangis lirih, tapi hanya inilah yang dapat membantu suamiku dari masalahnya. Aku mengangguk pelan menyetujui permintaannya.
Malam itu, Erick masuk kamar, dan berdiam diri di sebelahku. “Bukan seperti ini Tih, bukan permintaanku Tih, tapi suamimu yang mengusulkan sebagai pelunas hutangnya. Aku tak bisa membiarkanmu terlibat dalam hutang suamimu, Ratna,” parau suara Erick.
“Aku menyetujuinya kok Mas Erick, tapi besok pagi seluruh hutang mas Doli lunas ya,” bisikku tak kalah parau. Entah siapa yang memulai, kami berpagutan dan saling menindih, berguling tanpa suara. Jujur saja, malam itu aku mendapat kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh Mas Erick.Cerita Pemerkosaan
Dengan tangannya, dengan lidahnya, Mas Erick memuaskanku. Subuh aku terbangun dan memintanya lagi dan Mas Erick memberiku kepuasan tak berkesudahan dan mas Erick pun mengakui bahwa memek ku ini sangat berbeda dengan yang lain karena masih rapet.
Sesekali karena aku sudah sering melayani mas Erick , terkadang aku meminta mas Erick untuk melayani nafsu ku,dikarenakan mas Erick jago sekali membuat aku horny dan memek ku sangat nikmat ketika kontol mas Erick dimasukan
“Mas Doli, aku tak mau membahasnya. Aku sudah berkorban melunasi hutangmu, jangan bertanya-tanya lagi tentang tadi malam,” hardikku kesal kepada Mas Doli saat dia menanyakan perihal yang kukerjakan tadi malam bersama Mas Erick.
ernyata, pembayaran hutang tersebut tak berhenti hingga disitu. Kawan-kawan Mas Doli yang lain membujuk suamiku agar aku melayani hasratnya dengan bayaran satu juta semalam. Mas Doli setuju karena hingga berbulan ini dia belum mendapat pekerjaan. Kami terjepit masalah ekonomi namun dengan cara ini kesulitan keuangan kami dapat teratasi sementara.
Maka hampir setiap malam aku melayani teman-teman Mas Doli yang kos di rumah kontrakan Mas Erick, aku menikmati belaian setiap pria tersebut. Aku menikmati cumbuan panas itu. Aku belajar bercinta dengan selusin pria. Dan tiap malam pria-pria tersebut meniduriku minimal dua kali. Aku mendapatkan uang yang cukup hingga mampu untuk pergi mencari kontrakan rumah sendiri. Cerita Seks
BACA JUGA : Melayani Nafsu Istri Temanku
Setelah aku pindah rumah, aku tak lagi melayani jasa seksual pria hidung belang. Aku menjadi istri setia kembali, toh Mas Doli sudah bekerja sekarang walaupun hanya sekedar supir pribadi seorang pengusaha China. Tapi gaji, bonus dan tunjangan kesehatannya cukup untuk menghidupi kami.
Aku dan Mas Doli tak sekalipun pernah membahas kejadian tersebut hingga kini. Kami melupakannya




0 Komentar